Saturday, October 29, 2011

Sekelebat Info

Jadi belum lama ini ada eks-temen BTA yang jadi temen sejurusan saya sekarang, bertanya kenapa saya tidak menggunakan nama saya lagi sebagai kata ganti orang pertama saat ngobrol.

Pertama ya teman-teman, saya terharu dan kaget juga ada teman saya yang nanya begitu, berarti ada treat dari diri saya yang diinget orang hihihi (padahal di keluarga saya sih ngomong begitu biasa aja) tapi yaudah. Saya bilang kalau saya membiasakan diri untuk menggunakan kata ganti orang pertama (aku) karena di jurusan saya, saya tidak dikenal dengan nama saya yang sebelumnya dikenal orang-orang yang kenal saya (Rani) tapi dengan nama yang lain/nama orientasi (Harlin). Saya rasa sih ini supaya terhindar dari adanya nama panggilan yang sama, dan kalau saya masih menggunakan nama saya dan bukan kata ganti orang pertama dalam percakapan, nanti teman-teman saya yang harus mengenal saya dengan nama orientasi saya jadi bingung kaaan.

Kemudian ada juga yang bilang kalau mereka lebih suka nama orientasi saya dari pada nama panggilan yang yang beneran. Entah harus bersyukur atau tersinggung. Tapi yasudalah ya. Preference kan urusan orang.

Saya mau cerita banyak tapi yang diceritakan ini banyak yang saya mau ceritakan masih rahasia perusahaan (dan kayaknya bakal terus jadi rahasia perusahaan, mungkin) tapi ada yang menarik banget deh. Saya kan akhirnya punya temen pulang bareng lagi nih, jadi kami sering pergi dan pulang bersama. Beberapa kali ketika kami sedang bercerita tentang sesuatu yang seharusnya (semacam) rahasia perusahaan entah kenapa ada saja senior yang ternyata tak sengaja ada disana. Entah memang kami apes atau bagaimana entahlah. Dengan hari ini, sudah sekitar 4 kali kejadiannya. Menurut saya sih itu lumayan banyak juga, soalnya kejadiannya selain di kereta dan stasiun, adalah di toilet rektorat dan di tengah hutan. Kemungkinan untuk ketemu orang yang dikenal di toilet rektorat dan di tengah hutan yang ternyata adalah senior?

Ngomong-ngomong, minggu depan UTS lho.

Friday, October 7, 2011

Adaptasi, Goal, Ekspektasi.

Halo! Udah lama nih tak bercerita disini! Yah, memang nggak ada yang mau diomongin sih. Kalo ada yang penasaran sama kehidupan saya yang sekarang, saya belum terasa kok perubahan signifikan-signifikan amat dari yang sebelumnya. Kalo hectic ya hectic lumayan, boong deng nggak segitunya hectic kok! In fact, entah ini belum kerasa apa gimana, atau mungkin sebaliknya; karena udah lumayan terbiasa sekarang... rasanya agak luang dan menyenangkan. Tugas-tugas juga manajebel. Udah agak ketemu nih patternnya, cuma ya nggak tau deh kan baru mulai.

Setelah berbagai goal dan ekspektasi muncul sekelebat di kepala saya yang sempit ini, saya juga sempat mengalami perasaan malas dan capek dan ribet dan sesak. Tapi yah, dijalanin aja lah ya. Menjalani itu bukannya gampang tapi emang nggak ada pilihan lain kalo memang masih mau hidup di dunia. Cuma yang namanya menjalani itu ya susah kalo belum biasa; belum beradaptasi.

Terkadang adaptasi itu terasa sangat sulit dan lama, kalo menurut saya sih itu terjadi karena yang beradaptasi tidak sadar ia sedang dalam masa adaptasi. Yang penting sih tau dulu kalo banyak hal yang nggak sama dan menyiapkan diri gimana biar kenggaksamaan tersebut bisa diterima jiwa dan raga alias dijalani dengan hati yang ikhlas. Dibawa seneng aja. Kalo dari sisi optimis ya seneng aja, hari esok akan lebih baik dari hari ini! Kalo dari sisi pesimis ya seneng aja, hari esok bakal lebih capek, jadi mumpung masih hari ini senengnya sekarang aja, ya nggak.

Kalo soal goal dan ekspektasi, ya.. saya merasa saya masih punya banyak waktu dan kesempatan buat mengerti, mengejar nilai bagus banget dan berkegiatan yang banyak dan melakukannya itu nggak harus sekarang. Kalo saya pribadi sih, yang saya butuhkan sekarang itu kestabilan, dan kalau saya hanya bisa mendapatkan kestabilan itu dengan nilai bagus aja dan kegiatan yang nggak terlalu banyak, so be it.

Saya setuju kok sama carpe diem! Seize the day, kalo bukan sekarang, mau kapan lagi? Tapi ibarat mancing, cuma orang yang bersabar yang bisa dapet ikan; semua ada waktunya masing-masing kok! Kalo memang belum mampu ya ngapain dipaksa. Kalo memang itu buat yang terbaik, nggak masalah kok kalo harus nunggu.



Pintu itu banyak. Dan jangan khawatir, kalo emang nggak bisa masuk atau keluar lewat pintu, masih ada jendela, lubang tikus dan cerobong asap kok.

Wednesday, September 14, 2011

Something happened

You know, the one that I have mentioned about the time when I saw one of my friend using a bag from NSO, and then I told one of my other my friend that I'm going to get one of those next year and I really did? That's one case. For one thing, I didn't mean anything when I said that, but it happened anyways.

Similar case happened a few days ago.

But I didn't say anything this time.

You see, now that I go to college, I usually go there by train since my house is nearby and I'm too lazy to find a kostan (or somesort). And I usually went to the last wagon (or first, depends) so I can get out of the station faster.

It was Monday (yes, this week's Monday) and I was on my way home inside the train when I saw a guy (look's like the one in charge) went to engine driver's cabin. And there's a thought.

"I wonder what's inside there."




And then there was Tuesday. I was late; when I bought the tickets, the train's already there and when I run for it, the door closed just in front of my face. I'm in despair!

But just for a second.

Because it seems that one of the guy in engine driver's cabin saw my failed attempt and felt kind of pity, so he opened the cabin's door; and let me in.

So I was inside an unused engine driver's cabin all the way to college.

I was inside the engine driver's cabin.

I was inside the--

--Holy kitty that was--



--I dunno. Beyond unexpected? Something like that.

I feel like, I'm the luckiest person in the world or something. Because it's just crazy! The moment I wonder about what's inside the engine driver's cabin on Monday, I know that would be sort-of-impossible! Because, it's not like I want to work there or some sort; the thought of I would be there is nonexistent in my mind. I just shrugged the thought off seconds after I thought about that.

And then the next day, I was there, all the way to college. True story.


...


HOW COULD SUCH THING HAPPENED????!!!


Sigh. I don't know.






But seriously.

If a mere thought like that could happen; even when you don't expect anything, even when you don't believe in it; why can't people believe in a great, strong and promised force such as,


a prayer?








Just saying.

Saturday, September 10, 2011

Of Formality and Reality

Weird title. I know. Sorry. Please excuse my uncreative mind.




When I was in high school (it sounds like I'm old or something) in the tenth grade, if I'm not mistaken, my sociology teacher told the class about uh. I forgot what it's called, but long story short, it's about how there are two behaviors that people choose to.. use? do? whatever the verb is; and that depended on the relation of the person you interact with.

One I like to refer as 'formal' (since I forgot what it's called), it's the kind of behavior you usually offer to people for the sake of courtesy and such; usually to people older, to stranger, to your boss, to people you just met, and so on. But I think in a way, this behavior is one that you want 'people to know you as' kind of behavior. It can be anything; polite, warm, chirpy, or maybe cold, annoying and inconsiderate if you want to. So by formal.. I don't mean 'formal' literally.

And another one is.. one that like to refer as 'real' (since like I've mentioned, I forgot what it's called) and obviously, since this is the real one, this behavior reflects you as who you really are. The one you'll use/do/whatever to the person close to you, like family and friends or boyfriends or girlfriends or pets and etc. And it can be anything too.

You can say that "I'm not like that! I always stay true with myself; I treat people the same, their relation with me doesn't matter."

Well.

No, you can't. If you do, I don't think you'll survive in the society.

This act of.. treating people differently comes naturally I guess. It comes naturally when you're a part of society; it comes naturally when you have people who're close to you, and people who're not-that-close to you. A lot of things mattered as of why and it's late and I'm lazy of explaining them (maybe later) but yeah. It's just different!

It's not always differs a lot, of course. It's just, there are things that only people you trust a lot know about one or two qualities your soul has, and there are things that you only do to people mattered to you and people who actually don't mind receiving that behavior.

And there are things that you don't really like doing; like maybe smiling or greeting or bowing or standing straight, but you have to, because that's how society works. There are unwritten rules too, and you can't just pay no heed just because it's not 'you'. And not just society, in a very small scope like meeting people or helping a stranger; there are things that you suppose to do in order to make it work. And more often than not, you don't like doing that. And it works when it's subverted as well. One can act ferocious and cold and scary; sometimes they suppose to do that; maybe that's their job, or maybe they have their own motives (gaining respect, making a point, or something)

And for people who do that; who separate how they treat people based on their relationship or something like that; it's not that they're 'fake'.

It just comes naturally. A demand from society.

And personally, a demand from an insecure mind.




So no. I don't think 'formal' behaviors are fake. And no. I don't think that 'real' behaviors have to be shown to every single people and at any time you want to just because it's real.



And I don't make that theory up! I actually learnt that from high school. I don't know who the heck came up with this idea, but whoever they are, they nailed it.





Today, I met an interesting person.

Well, I meet interesting people everyday, but let's just say that this particular person is worth mentioning because this person reminds me of that particular info I received in class 3 years ago.

So yeah.

Not that I aced sociology; in fact, I sucked. That's why if anyone out there knows what the heck I'm talking about and doesn't think that I make any sense, feel free to point out the wrongs, thank you very much. Because not just I have this lesson three years ago and I sucked at sociology; I didn't do any research when writing this.

So there.

Saturday, September 3, 2011

Lebaran

Halo! Selamat berlibur ya, dan selamat lebaran walaupun lain-lain harinya. Salut deh sama Indonesia, sankingkan multikulturalnya hari lebaran aja beda-beda hehehehe (ini serius) tapi biar beda-beda juga tetep sayang ya, jangan berantem. Mama sama papa saya juga seperti tahun-tahun sebelumnya lebaran di hari yang berbeda lagi lho. Mama sama papa saya itu memang epitom bhinneka tunggal ika. Ikut lebaran yang mana saja tidak masalah, kan yang penting punya dasar yang jelas dan yakin; bukan ikut-ikutan.

Dan seperti tahun sebelumnya, tahun ini saya mudik lho. Mudik kali ini spesial soalnya kakak dan adek sepupu saya yang sempat saya sebut di post-post lama ikutan juga, setelah 5 tahun nggak lebaran bareng. Ngomong-ngomong mudik juga, saya jadi menyadari ternyata kebiasaan saya menggunakan nama dan bukan kata ganti orang ketiga itu memang tidak setidak-wajar yang saya pikir. Hampir semua sepupu saya menggunakan nama atau panggilan (baca: Kakak, Adek, Ayuk) untuk menyebut diri sendiri. Padahal semenjak saya masuk dunia kampus saya berusaha mengubah kebiasaan saya itu karena jarang yang menggunakan lho, yah, memang ada tuntutan lain juga sih. Tapi yah, begitulah. Mungkin itu kebiasaan daerah ato apalah.

Image and video hosting by TinyPic
Yuk Alin, Kak Sheila, Fauzan, Fajar, Andini, Kak Firli, Rani (Kami bertujuh ini lahir di 6 tahun yang berurutan; Yuk Alin '91, Kak Firli '92, Kak Sheila '93, rani '94, Fajar '95, Dini dan Fauzan '96.)

Image and video hosting by TinyPic
Fajar, Dini

Image and video hosting by TinyPic
Yuk Alin, rani

Image and video hosting by TinyPic
Fajar, Fauzan, Yuk Alin, rani

Image and video hosting by TinyPic
Dini, Kak Sheila, Kak Firli, Yuk Ani, Caca, Yuk Alin

Image and video hosting by TinyPic
Fajar, Kak Sheila, Rani, Dini, Kak Firli, Yuk Ani, Yuk Alin

Image and video hosting by TinyPic
Dini, Kak Sheila

Image and video hosting by TinyPic
Yuk Ani, Yuk Alin, Caca, Dini, Rani, Firman, Fajar, Kak Firli


Waktu bersama sepupu-sepupu saya merupakan waktu-waktu termenyenangkan di masa kecil saya (sekarang juga masih menyenangkan), karena sewaktu saya kecil memang tidak seru-seru amat, isinya dibully, kerjaannya salah orang, di adu-domba oleh tetangga, kehidupan SD penuh drama; dan selain keluarga saya dan kucing saya yang menghibur cuma sepupu-sepupu saya ini saya punya cerita-cerita menarik.

Sebenarnya saya juga dekat dengan sepupu dari keluarga papa saya, dan yang ini lebih eksklusif, karena yang ini 94liners. Tapi mungkin ceritanya ada untuk lain kali. :) Yang jelas liburan kali ini menyenangkan! Semoga liburan kalian juga!