Saturday, July 18, 2009

tidak seperti yang terencana

eh tadi rani mau bercerita looohh ah tapi nggak jadi udah nggak mood =___= oiyaoiya rani udah selesai membaca sebuah buku berjudul Sofies Verden (originated: norwegia) dengan bahasa pengantar indonesia. bagus. bagus. buku yang bagus rani terkesan pengen sekali menilep buku itu dari perpus huahahahaa

heem. apa ya nulis apa ya seharusnya sih menurut rencana rani yang tadi, sekarang mengerjakan tugas agama, melanjutkan tugas sejarah, dan mengeprint reading text ms aulia, kemudian belajar geografi. mungkin. lupa juga tadi rencananya gimana. tapi begitu. biarpun dimana-mana bilangnya "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian" rani yang sekarang dan rani yang nanti itu berbeda. tapi rani juga nggak menganut "hidup untuk saat ini" gitu juga ya kalo rani rasa kita harus adil sama diri kita sendiri masa enak banget ya rani yang entaran hepi tapi rani yang sekarang capek banget kenapa nggak rani yang sekarang hepi tapi kerja jadi rani yang nanti juga hepi tapi kerja. kebayang nggak hahahaa

ah!

apa ya

eng eng oiya tadi ghasarin mampir ke rumah loh sebentar pas banget rani lagi ngancurin isi lemari rani malu deh ketauan XD hahaa (apasih) ya gitu deh aduh males juga cerita tentang rani-rani terus rani cerita yang lain aja deh

jadi ada seorang anak gadis yang menyukai permen gula dan hidup dikelilingi permen gula. suatu ketika ia melihat seekor lalat raksasa hendak hinggap ke permen-permen gulanya. dia gila dan kemudian mengadakan sayembara siapapun yang bisa menghadang atau bagaimnapun caranya sampai lalat raksasa itu tidak menyentuh permen gulanya akan dia beri permen gulanya setengah dari yang dia miliki. dia bisa membuat sayembara seperti itu karena lalat raksasa itu membutuh kan waktu berhari-hari untuk hinggap ke permen gulanya. sepertinya karena badannya yang raksasa lalat itu jadi lama. lambat. lelet. begitulah. sayembara itu diikuti oleh ribuan orang dari nenek-nenek sampai bocah karena mereka begitu inginnya permen gula sang anak gadis tetapi tetap saja lalat raksasa itu masih di jalurnya menuju permen-permen gula sang anak gadis.

datanglah seorang pemuda tampan pembawa seruling. ia mengikuti sayembara itu dan dengan serulingnya ia memanggil katak raksasa. katak raksasa itu, lain halnya dengan lalat, datang dengan kecepatan cahaya kemudian menerkam lalat raksasa itu. tidak sih. cuma dimakan. pemuda tampan pembawa seruling itu meminta setengah permen gula yang dimiliki oleh sang gadis tetapi sang anak gadis hanya memberikan setengah permen gula miliknya minus satu permen gula. pemuda tampan pembawa seruling itu kesal karena ia tidak mendapatkan satu permen gula itu dan memanggil kataknya lagi. kataknya datang dengan kecepatan cahaya yang sama kemudian menelan sang anak gadis itu.

tamat.

pesan moral: berperilakulah adil dan jangan korupsi barang satu permen gula pun.

pada akhirnya rani bercerita juga.

No comments: